Halaman

27 Oktober 2010

Demonstrasi Mengecam Sikap Anti Islam Berlangsung di Jerman

Lima ribu orang berdemonstrasi pada hari Ahad kemarin (28/3) untuk memproklamasikan sikap protes mereka terhadap perilaku kelompok sayap kanan anti islam di kota Duisburg, Jerman.
Para demonstran mengangkat slogan-slogan yang menentang sikap permusuhan terhadap Islam dan umat islam dan menyerukan untuk bekerjasama pada penyatuan masyarakat Muslim di Jerman.
Demonstrasi ini datang sebagai tanggapan terhadap kelompok sayap kanan ekstrim anti Islam yang mengkampanyekan sikap permusuhannya terhadap umat Islam di North Rhine-Westphalia, dan mengklaim mereka menolak setiap adanya upaya 'Islamisasi terhadap masyarakat Jerman.'
Dewan tertinggi umat Islam Jerman meyakini bahwa demonstrasi ini sebuah langkah yang tepat dalam rangka menentang dan mendorong warga Jerman untuk menolak seruan dari kelompok sayap kanan.
Aiman Mazyek, Sekretaris Jenderal Dewan tertinggi Islam Jerman, mengucapkan rasa syukur yang mendalam kepada para peserta yang turut berpartisipasi dalam demonstrasi ini.(fq/imo)
Denny: Demonstrasi dengan Kerbau & Teriakan Maling Itu Tindak Pidana  


<a href='http://openx.detik.com/delivery/ck.php?n=a59ecd1b&cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE' target='_blank'><img src='http://openx.detik.com/delivery/avw.php?zoneid=24&cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&n=a59ecd1b' border='0' alt='' /></a>

Jakarta - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) belum membawa aksi demonstrasi yang berisi penghinaan terhadap dirinya ke jalur hukum. Namun Staf Khusus Presiden Bidang Hukum, HAM & Pemberantasan KKN Denny Indrayana bersuara keras. 

Denny menilai demonstrasi dengan membawa kerbau, membakar foto dan meneriaki maling kepada kepala negara adalah tindak pidana yang bisa diproses sesuai hukum yang berlaku.
 
"Demonstrasi dengan kerbau, pembakaran foto, teriakan maling dan sejenisnya sudah dapat dikatakan sebagai bentuk penghinaan, dan karenanya adalah tindak pidana," kata Denny dalam rilis yang diterima detikcom, Minggu (7/2/2010).

Menurut Dosen UGM ini, meski diperlakukan demikian, tidak pernah sekalipun Presiden SBY meminta demonstrasi yang menghina itu diproses secara pidana. Hal itu disebabkan karena SBY tetap menggunakan cara-cara persuasif dan menghindari pendekatan pidana.

"Padahal KUHP jelas mengatur masalah penghinaan demikian dapat dijerat secara hukum. Lihat Pasal 207 KUHP: Barangsiapa dengan sengaja di muka umum, dengan lisan atau dengan tulisan, menghina suatu penguasa atau badan umum yang ada di Indonesia, diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun enam bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah," terang Denny.

Denny pun lantas menjelaskan perbedaan demonstrasi sebagai hak asasi demokrasi yang menjunjung tinggi kritisisme dan demonstrasi yang mengumbar penghinaan.

"Ada perbedaan sangat mendasar antara 'mengkritik' dan 'menghina'. Mengkritik memang hak dasar dalam berdemokrasi dan harus dihormati. Mengkritik juga penting untuk kontrol bernegara," papar Denny.

"Menghina di sisi lain adalah tindak pidana dan dilarang dilakukan atas nama demokrasi sekalipun. Menghina juga tidak boleh dilakukan kepada siapapun, tidak terkecuali - apalagi-penghinaan terhadap penyelenggara negara yang dipilih secara sah melalui pemilu 2009 yang demokratis," imbuhnya.

Pelaku Curanmor Dibekuk di Lokalisasi
PDF Cetak E-mail
PORTALKRIMINAL.COM - SURABAYA : Anggota Polsek Benowo Surabaya, meringkus, Mulyono, 35 tahun di lokalisasi Klakah Rejo Surabaya. Pasalnya warga Jalan Wonokitri Surabaya ini ketahuan menjual kenderaan bermotor (Ranmor) hasil curian.
Kanitreskrim Polsek Benowo, AKP Supardi mengatakan, tersangka diringkus setelah menjarah sepeda motor milik Dewi Fatimah (16), mahasiswi Akademi Kebidanan Universitas Nusantara PGRI Kediri Jawa Timur.

”Dia berusaha menawarkan kendaraan tersebut kesalah satu warga sana dengan harga murah yaitu Rp.3,5 juta,” ujar Kanitreskrim Polsek Benowo, AKP Supardi saat ditemui di Mapolsek Benowo, Selasa (26/10).

Dari pengakuan awalnya di Mapolsek kepada penyidik, kata Supardi, pelaku beraksi tidak hanya di Kediri saja, namun juga dibeberapa kota antara lain Sidoarjo dan Gresik.

“Di Kediri dia mengaku telah mencuri sebuah Yamaha Mio dan sudah dijual seharga Rp 1 juta. Selain sepeda motor, dia juga mengaku pernah mencuri 3 pompa air diesel dan sudah dijualnya Rp 300 ribu per buah. Terakhir dari pengakuannya dia selama di Surabaya juga pernah mencuri HP di rumah majikan yang memperkejakannya di lokalisasi Klakah Rejo,” terang Supardi.

Untuk pengembangan kasus tersebut, lanjut Supardi, pihaknya saat ini sudah berkoordinasi dengan Polres Sidoarjo, Gresik dan Kediri untuk mencari penadah barang-barang hasil kejahatan pelaku.

”Kami sudah menjalin komunikasi dengan Polres-Polres tersebut dan terlebih dengan Polres Kediri karena yang bersangkutan paling banyak beraksi disana. Kami akan kejar dimana saja dia jual hasil kejahatannya. Kalau ada penadahnya akan kami tangkap pula mereka,” janji Supardi. (die)
Bangkalan (ANTARA News) - Aparat Polres Bangkalan, Jawa Timur, Jumat meringkus pelaku pemerkosaan terhadap gadis belia yang masih duduk di kelas satu Sekolah Mengah Atas (SMA) di kabupaten di Pulau Madura itu.

SR (20), yang masih memiliki hubungan famili dengan korban, ditangkap di rumahnya di Bangkalan setelah polisi menerima laporan dari keluarga korban.

Pada Minggu malam (21/3) lalu sekitar pukul 23.00 WIB, korban yang tertidur pulas di kamarnya tanpa terlebih dulu mengunci pintu kamar, didatangi oleh SR.

SR kemudian langsung membekap wajah korban dengan bantal dan korban yang tengah tertidur pulas seketika terbangun karena kaget.

Meski korban sempat berontak dan berteriak minta tolong, tapi karena tidak ada orang lain di rumah itu akhirnya SR berhasil memerkosa korban.

Pelaku kemudian meninggalkan korban sendirian di atas tempat tidur dan baru keesokan harinya korban menceritakan peristiwa yang dialaminya itu kepada orang tuanya.

Dari laporan orang tua korban itu lah polisi kemudian melakukan penyelidikan.

Kasat Reskrim Polres Bangkalan AKP Suwarno menyatakan, penangkapan pelaku pemerkosaan itu setelah pihaknya melakukan penyelidikan dan memeriksa sejumlah pihak, baik korban atau pun orang terdekat korban.

"Pelaku akan dijerat dengan Pasal 375 KUHP tentang Pemerkosaan dengan ancaman hukuman dua belas tahun penjara," kata Suwarno.

Pemerkosa Siswi SMA Ditangkap

Bangkalan (ANTARA News) - Aparat Polres Bangkalan, Jawa Timur, Jumat meringkus pelaku pemerkosaan terhadap gadis belia yang masih duduk di kelas satu Sekolah Mengah Atas (SMA) di kabupaten di Pulau Madura itu.

SR (20), yang masih memiliki hubungan famili dengan korban, ditangkap di rumahnya di Bangkalan setelah polisi menerima laporan dari keluarga korban.

Pada Minggu malam (21/3) lalu sekitar pukul 23.00 WIB, korban yang tertidur pulas di kamarnya tanpa terlebih dulu mengunci pintu kamar, didatangi oleh SR.

SR kemudian langsung membekap wajah korban dengan bantal dan korban yang tengah tertidur pulas seketika terbangun karena kaget.

Meski korban sempat berontak dan berteriak minta tolong, tapi karena tidak ada orang lain di rumah itu akhirnya SR berhasil memerkosa korban.

Pelaku kemudian meninggalkan korban sendirian di atas tempat tidur dan baru keesokan harinya korban menceritakan peristiwa yang dialaminya itu kepada orang tuanya.

Dari laporan orang tua korban itu lah polisi kemudian melakukan penyelidikan.

Kasat Reskrim Polres Bangkalan AKP Suwarno menyatakan, penangkapan pelaku pemerkosaan itu setelah pihaknya melakukan penyelidikan dan memeriksa sejumlah pihak, baik korban atau pun orang terdekat korban.

"Pelaku akan dijerat dengan Pasal 375 KUHP tentang Pemerkosaan dengan ancaman hukuman dua belas tahun penjara," kata Suwarno. 



 
 
Pemberontakan Kapal 7 merupakan catatan sejarah yang tidak bisa dipisahkan dari proses bertumbuhnya semangat nasionalisme Indonesia yang dilandasi solidaritas kebersamaan. Menariknya pemberontakan ini melibatkan orang-orang Minahasa yang dengan tegas menolak diskriminasi dan tindakan sewenang-wenang dari penjajah Belanda. Bagaimana sejarah Pemberontakan Kapal 7 ini. Berikut tulisan Harry Kawilarang berjudul Kisah Pemberontakan Kapal Zeven Provincien Dan Reaksi Dunia Terhadap Borjuasi Belanda di Indonesia yang diposting di tou-kawanua@yahoogroups.com dan dikutip wartawan koran ini Tenni Assa.

Kutipan:
Jeremias Kawilarang adalah orang nomor dua sebagai pemimpin pemberontak hingga otomatis menjadi pemimpin setelah kematian Martin Paradja pada hari itu juga. Tetapi bagi Kawilarang tidak mungkin melakukan perlawanan karena akan mati konyol saja. Dari peristiwa pemboman itu 23 marinir yang tewas (3 marinir Eropa dan 20 marinir pribumi), 11 luka parah dan empat meninggal beberapa hari kemudian dan 7 marinir luka ringan. Tidak ada pilihan lain dan pemberontak menyerah.

Melumpuhkan Kapal
Pemberontak di Selat Sunda

Gubernur-Jendral de Jonge dalam pertemuannya dengan Osten memutuskan untuk mencegat kapal Zeven Provincien di Selat Sunda. Dalam catatannya de Jonge menulis: “Kami telah memutuskan untuk memusatkan kekuatan di sana (Selat Sunda) dan menghancurkan mereka. Namun tidak boleh diabaikan kapal “Zeven Porvinicien” ini memiliki meriam ukuran 28 cm, sementara (kapal perang “Java” hanya memiliki meriam ukuran 15 cm. Kita harus libatkan pesawat terbang, tetapi itu juga terbatas karena hanya dapat mengudara selama 6 jam. Untuk itu usahakan menggiring kapal mendekati Telukbetung yang akan menjadi basis kekuatan. Terhadap kapal itu sendiri kami tidak begitu ambil perduli. Yang menjadi masalah adalah ketika ada 6 Februari mengeluarkan pernyataan ke dunia internasional dalam bahasa Inggris dan bahasa Belanda hingga dapat diketahui oleh media-pers di seluruh dunia dengan pernyataan:
“Kami merencanakan untuk berlayar ke Surabya dengan penuh semangat. Sehari sebelum berada di Surabaya, kami dengan resmi akan menyerahkan komando kapal kepada Komandan. Tujuan kami adalah memprotes terhadap ketidakadilan penurunan gaji dengan merampok apa yang menjadi hak orang. Tidak ada satupun yang luka di kapal ini dan semuanya selamat.”
Pada hari kelima, Jum’at 10 Februari 1933, setelah meliwati Selat Siberut, masuk telegram yang memerintahkan agar Kapal 7 mengikuti perintah dibawah kapal penjelajah Hr Ms Java, yang di dukung oleh dua kapal pemburu torpedo, HR MS Evertsen dan Hr Ms Piet Hein dan dua kapal selam Hr Ms IX dan Hr Ms KVII.   
Tetapi Martin Paradja menjawab telegram itu: “Wensen niet gehinderd te worden, en stomen naar Surabaya” (Tidak ingin dihalangi dan akan tetap berlayar ke Surabaya).”
Tak berapa lama, tepat pada jam 019.18 muncul kapal terbang di atas pesawat  dan langsung menjatuhkan bom di depan badan kapal. Boshart yang menyaksikan peristiwa itu menulis: “Saya lari menuju ke palka atas, dan pada jarak sekitar 10 meter bom dijatuhkan dan meledak di kapal. Unggunan api pun terlihat menjulang tinggi, dan terlihat mayat-mayat bergelimpangan yang ketika itu sedang melihat kedatangan kapal terbang. Karena tekanan udara hingga saya juga terpental dan jatuh di dek bawah. Tak lama kemudian menyusul lagi tiga bom di jatuhkan di kapal dari pesawat yang terbang rendah. Air mata menguvur ketika melihat korban-korban yang berjatuhan dan mati seketika. Saya sedih, karena mereka itu adalah rekan-rekan saya senasib dan sepenanggungan. Saya melihat seorang rekan dengan lubang di dada dan nafas tersengal-sengal. Masih terasa detak jantung yang keras, namun tak lama karena kemudian menghembuskan nafasnya yang terakhir. Keadaan sekeliling geladak kapal sangat menyedihak oleh gelimpangan mayat, termasuk pemimpin pemberontak, Martin Paradja yang mati sekitka oleh pemboman itu. Kamar mesin hancur dan bersama masinis-masinis lainnya ikut dilahap oleh api. Semua meriam kapal sudah hancur. Banyak pula orang melompat ke laut untuk menyelamatkan diri tanpa menghiraukan bahaya ikan-ikan hiu dari samudera Hindia dan berkeliaran mengitari kapal. Tak lama kemudian terlihat kapal-kapal motor datang untuk menyelamatkan mereka ini. Ketika saya mendatangi bilik radio, terlihat perwira telegrafis Eropa terdiam dan sama sekali tidak bergerak dari tempatnya. Kemudian saya pergi ke kamar perwira dengan maksud untuk mengatakan apa yang harus mereka lakukan. Ternyata sebagian dari pemimpin pemberontak sudah tewas, dan hanya tinggal beberapa orang saja, termasuk Kawilarang, yang ketika itu terbangun dari tidur dan bangun dan mendapat luka di kaki. Begitu pula dengan Rumambi, mengalami luka parah.”
Jeremias Kawilarang adalah orang nomor dua sebagai pemimpin pemberontak hingga otomatis menjadi pemimpin setelah kematian Martin Paradja pada hari itu juga. Tetapi bagi Kawilarang tidak mungkin melakukan perlawanan karena akan mati konyol saja. Dari peristiwa pemboman itu 23 marinir yang tewas (3 marinir Eropa dan 20 marinir pribumi), 11 luka parah dan empat meninggal beberapa hari kemudian dan 7 marinir luka ringan. Tidak ada pilihan lain dan pemberontak menyerah. Kebakaran di kapal dipadamkan.Para pemberontak yang masih hidup di angkut dengan kapal Java sementara marinir pemberontak Eropa dibawa dengan kapal kecil, Orion menuju pulau Onrust, di kepulauan Seribu. Para marinir pribumi yang tidak diborgol berjumlah 100 orang sedang yang diborgol 50 orang. Sementara marinir Eropa 28 yang diborgol dan 4 orang tidak diborgol dan semuanya masuk penjara Sukolilo, Madura bersama 400 lainnya yang ditangkap sebelumnya.(bersambung)
zz
             DI/TII Jawa Tengah
    Gerakan DI/TII juga menyebar ke Jawa Tengah, Aceh, dan Sulawesi Selatan. Gerakan DI/TII di Jawa Tengah yang dipimpin oleh Amir Fatah di bagian utara, yang bergerak di daerah Tegal, Brebes dan Pekalongan. Setelah bergabung dengan Kartosuwiryo, Amir Fatah kemudian diangkat sebagai �komandan pertemburan Jawa Tengah� dengan pangkat �Mayor Jenderal Tentara Islam Indonesia�. Untuk menghancurkan gerakan ini, Januari 1950 dibentuk Komando Gerakan Banteng Negara (GBN) dibawah Letkol Sarbini. Pemberontakan di Kebumen dilancarkan oleh Angkatan Umat Islam (AUI) yang dipimpin oleh Kyai Moh. Mahfudz Abdulrachman (Romo Pusat atau Kiai Sumolanggu) Gerakan ini berhasil dihancurkan pada tahun 1957 dengan operasi militer yang disebut Operasi Gerakan Banteng Nasional dari Divisi Diponegoro. Gerakan DI/TII itu pernah menjadi kuat karena pemberontakan Batalion 426 di Kedu dan Magelang/ Divisi Diponegoro. Didaerah Merapi-Merbabu juga telah terjadi kerusuhan-kerusuhan yang dilancarkan oleh Gerakan oleh Gerakan Merapi-Merbabu Complex (MMC). Gerakan ini juga dapat dihancurkan. Untuk menumpas gerakan DI/TII di daerah Gerakan Banteng Nasional dilancarkan operasi Banteng Raiders.
Pemberontakan Andi Azis di Makasar
Adapun faktor yang menyebabkan pemberontakan adalah :
  1. Menuntut agar pasukan bekas KNIL saja yang bertanggung jawab atas keamanan di Negara Indonesia Timur.
  2. Menentang masuknya pasukan APRIS dari TNI
  3. Mempertahankan tetap berdirinya Negara Indonesia Timur.
Karena tindakan Andi Azis tersebut maka pemerintah pusat bertindak tegas. Pada tanggal 8 April 1950 dikeluarkan ultimatum bahwa dalam waktu 4 x 24 jam Andi Azis harus melaporkan diri ke Jakarta untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, pasukannya harus dikonsinyasi, senjata-senjata dikembalikan, dan semua tawanan harus dilepaskan. Kedatangan pasukan pimpinan Worang kemudian disusul oleh pasukan ekspedisi yang dipimpin oleh Kolonel A.E Kawilarang pada tanggal 26 April 1950 dengan kekuatan dua brigade dan satu batalion di antaranya adalah Brigade Mataram yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Suharto. Kapten Andi Azis dihadapkan ke Pengadilan Militer di Yogyakarta untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya dan dijatuhi hukuman 15 tahun penjara

    Pelaku Perampokan di Medan melibatkan Oknum Polri ?

Polri Selidiki Keterlibatan Oknum Polri dalam Perampokan Bank di Medan, Polri memastikan akan menyelidiki kemungkinan terlibatnya oknum anggota Polri dalam kasus perampokkan Bank CIMB Niaga di Medan. Hal itu dilakukan Polri menyusul adanya temuan dalam foto-foto perampokkan yang menunjukkan jika salah satu senjata yang digunakan oleh para pelaku pembobol bank merupakan jenis senjata yang biasa digunakan oleh anggota Polri.

"Kita akan teliti keterlibatan (oknum kepolisian) itu," kata Kadiv Humas Polri, Brigjen Pol Iskandar Hasan di Mabes Polri, Jakarta, Jumat (20/8).


Menurut Iskandar, memang tak tertutup kemungkinan jika kelompok pelaku pembobol bank itu diantaranya berasal dari Polri dan TNI. Pasalnya, menurut Iskandar, dari hasil olah TKP (tempat kejadian perkara) dan identifikasi selonsong peluru dan proyektil yang ditemukan di lokasi kejadian serta beberapa bukti foto komplotan pelaku yang didapatkan kepolisian dari media, diketahui jika senjata yang digunakan para pelaku merupakan senjata yang umum digunakan anggota Polri dan TNI.

"Ada AK47, M16, dan pistol," katanya. Dalam Foto Perampokan Bank di Medan yang didapat Tribunnews, memang terlihat jika salah satu senjata yang digunakan pelaku perampokkan adalah senjata jenis AK 101 yang biasanya hanya digunakan anggota kepolisian.

Sementara Iskandar menambahkan jika senjata-senjata yang teridentifikasi itu juga diketahui pernah digunakan oleh mantan anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM) hingga tak tertutup kemungkinan senjata itu juga berasal dari sana. Pasalnya, senjata mantan GAM banyak yang tidak diserahkan kembali kepada kepolisian ataupun TNI. "Yang pasti itu bukan senjata disposal. Kalau disposal itu kan nggak bisa dipakai lagi," pungkasnya.

 Pemberontakan PKI (madiun 1948)

PERISTIWA Madiun (Madiun Affairs) adalah sebuah konflik kekerasan atau situasi chaos yang terjadi di Jawa Timur bulan September – Desember 1948. Peristiwa ini diawali dengan diproklamasikannya negara Soviet Republik Indonesia pada tanggal 18 September 1948 di Madiun oleh Muso, seorang tokoh Partai Komunis Indonesia dengan didukung pula oleh Menteri Pertahanan saat itu, Amir Sjarifuddin.
 
Pada saat itu hingga era Orde Lama peristiwa ini dinamakan Peristiwa Madiun (Madiun Affairs), dan tidak pernah disebut sebagai pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI). Baru di era Orde Baru peristiwa ini mulai dinamakan pemberontakan PKI.

Bersamaan dengan itu terjadi penculikan tokoh-tokoh masyarakat yang ada di Madiun, baik itu tokoh sipil maupun militer di pemerintahan ataupun tokoh-tokoh masyarakat dan agama.

Masih ada kontroversi mengenai peristiwa ini. Sejumlah pihak merasa tuduhan bahwa PKI yang mendalangi peristiwa ini sebetulnya adalah rekayasa pemerintah Orde Baru (dan sebagian pelaku Orde Lama).


Tawaran bantuan dari Belanda

Pada awal konflik Madiun, pemerintah Belanda berpura-pura menawarkan bantuan untuk menumpas pemberontakan tersebut, namun tawaran itu jelas ditolak oleh pemerintah Republik Indonesia. Pimpinan militer Indonesia bahkan memperhitungkan, Belanda akan segera memanfaatkan situasi tersebut untuk melakukan serangan total terhadap kekuatan bersenjata Republik Indonesia. Memang kelompok kiri termasuk Amir Syarifuddin Harahap, tengah membangun kekuatan untuk menghadapi Pemerintah RI, yang dituduh telah cenderung berpihak kepada AS.

Latar belakang

Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, muncul berbagai organisasi yang membina kader-kader mereka, termasuk golongan kiri dan golongan sosialis. Selain tergabung dalam Pesindo (Pemuda Sosialis Indonesia), Partai Sosialis Indonesia (PSI) juga terdapat kelompok-kelompok kiri lain, antara lain Kelompok Diskusi Patuk, yang diprakarsai oleh Dayno, yang tinggal di Patuk, Yogyakarta. Yang ikut dalam kelompok diskusi ini tidak hanya dari kalangan sipil seperti D.N. Aidit, Syam Kamaruzzaman, dll., melainkan kemudian juga dari kalangan militer dan bahkan beberapa komandan brigade, antara lain Kolonel Joko Suyono, Letkol Sudiarto (Komandan Brigade III, Divisi III), Letkol Soeharto (Komandan Brigade X, Divisi III. Kemudian juga menjadi Komandan Wehrkreis III, dan menjadi Presiden RI), Letkol Dahlan, Kapten Suparjo, Kapten Abdul Latief dan Kapten Untung Samsuri.

Pada bulan Mei 1948 bersama Suripno, Wakil Indonesia di Praha, Musso, kembali dari Moskow, Rusia. Tanggal 11 Agustus, Musso tiba di Yogyakarta dan segera menempati kembali posisi di pimpinan Partai Komunis Indonesia. Banyak politisi sosialis dan komandan pasukan bergabung dengan Musso, antara lain Mr. Amir Sjarifuddin Harahap, dr. Setiajid, kelompok diskusi Patuk, dll.

Aksi saling menculik dan membunuh mulai terjadi, dan masing-masing pihak menyatakan, bahwa pihak lainlah yang memulai. Banyak perwira TNI, perwira polisi, pemimpin agama, pondok pesantren di Madiun dan sekitarnya yang diculik dan dibunuh.

Tanggal 10 September 1948, mobil Gubernur Jawa Timur RM Ario Soerjo (RM Suryo) dan mobil 2 perwira polisi dicegat massa pengikut PKI di Ngawi. Ketiga orang tersebut dibunuh dan mayatnya dibuang di dalam hutan. Demikian juga dr. Muwardi dari golongan kiri, diculik dan dibunuh. Tuduhan langsung dilontarkan, bahwa pihak lainlah yang melakukannya. Di antara yang menjadi korban juga adalah Kol. Marhadi yang namanya sekarang diabadikan dengan Monumen yang berdiri di tengah alun-alun Kota Madiun dan nama jalan utama di Kota Madiun.

Kelompok kiri menuduh sejumlah petinggi Pemerintah RI saat itu, termasuk Wakil Presiden/Perdana Menteri Mohammad Hatta telah dipengaruhi oleh Amerika Serikat untuk menghancurkan Partai Komunis Indonesia, sejalan dengan doktrin Harry S. Truman, Presiden AS yang mengeluarkan gagasan Domino Theory. Truman menyatakan, bahwa apabila ada satu negara jatuh ke bawah pengaruh komunis, maka negara-negara tetangganya akan juga akan jatuh ke tangan komunis, seperti layaknya dalam permainan kartu domino. Oleh karena itu, dia sangat gigih dalam memerangi komunis di seluruh dunia.

Kemudian pada 21 Juli 1948 telah diadakan pertemuan rahasia di hotel "Huisje Hansje" Sarangan, dekat Madiun yang dihadiri oleh Soekarno, Hatta, Sukiman, Menteri Dalam negeri, Mohamad Roem (anggota Masyumi) dan Kepala Polisi Sukanto, sedangkan di pihak Amerika hadir Gerald Hopkins (penasihat politik Presiden Truman), Merle Cochran (pengganti Graham yang mewakili Amerika dalam Komisi Jasa Baik PBB). Dalam pertemuan Sarangan, yang belakangan dikenal sebagai "Perundingan Sarangan", diberitakan bahwa Pemerintah Republik Indonesia menyetujui Red Drive Proposal (proposal pembasmian kelompok merah). Dengan bantuan Arturo Campbell, Sukanto berangkat ke Amerika guna menerima bantuan untuk kepolisian RI. Campbell yang menyandang gelar resmi Atase Konsuler pada Konsulat Jenderal Amerika di Jakarta, sesungguhnya adalah anggota Central Intelligence Agency - CIA

Diisukan, bahwa Sumarsoso tokoh Pesindo, pada 18 September 1948 melalui radio di Madiun telah mengumumkan terbentuknya Pemerintah Front Nasional bagi Karesidenan Madiun. Namun Soemarsono kemudian membantah tuduhan yang mengatakan bahwa pada dia mengumumkan terbentuknya Front Nasional Daerah (FND) dan telah terjadi pemberontakan PKI. Dia bahwa FND dibentuk sebagai perlawanan terhadap ancaman dari Pemerintah Pusat

Pada 19 September 1948, Presiden Soekarno dalam pidato yang disiarkan melalui radio menyerukan kepada seluruh rakyat Indonesia, untuk memilih: Musso-Amir Syarifuddin atau Soekarno-Hatta. Maka pecahlah konflik bersenjata, yang pada waktu itu disebut sebagai Madiun Affairs (Peristiwa Madiun), dan di zaman Orde Baru terutama di buku-buku pelajaran sejarah kemudian dinyatakan sebagai pemberontakan PKI Madiun.

Akhir konflik

Kekuatan pasukan pendukung Musso digempur dari dua arah: Dari barat oleh pasukan Divisi II di bawah pimpinan Kolonel Gatot Subroto, yang diangkat menjadi Gubernur Militer Wilayah II (Semarang-Surakarta) tanggal 15 September 1948, serta pasukan dari Divisi Siliwangi, sedangkan dari timur diserang oleh pasukan dari Divisi I, di bawah pimpinan Kolonel Sungkono, yang diangkat menjadi Gubernur Militer Jawa Timur, tanggal 19 September 1948, serta pasukan Mobiele Brigade Besar (MBB) Jawa Timur, di bawah pimpinan M. Yasin.

Panglima Besar Sudirman menyampaikan kepada pemerintah, bahwa TNI dapat menumpas pasukan-pasukan pendukung Musso dalam waktu 2 minggu. Memang benar, kekuatan inti pasukan-pasukan pendukung Musso dapat dihancurkan dalam waktu singkat.

Tanggal 30 September 1948, kota Madiun dapat dikuasai seluruhnya. Pasukan Republik yang datang dari arah timur dan pasukan yang datang dari arah barat, bertemu di Hotel Merdeka di Madiun. Namun pimpinan kelompok kiri beserta beberapa pasukan pendukung mereka, lolos dan melarikan diri ke beberapa arah, sehingga tidak dapat segera ditangkap.

Baru pada akhir bulan November 1948 seluruh pimpinan dan pasukan pendukung Musso tewas atau dapat ditangkap. Sebelas pimpinan kelompok kiri, termasuk Mr. Amir Syarifuddin Harahap, mantan Perdana Menteri RI, dieksekusi pada 20 Desember 1948, atas perintah Kol. Gatot Subroto.

18 Oktober 2010

        



ANTARA PACAR DAN SHABAT




              Pagi ini, entah mengapa papan pengumuman yang tadinya sepi biasa- biasa saja berubah menjadi ramai dipadati banyak manusia di kampus Amoy. Di papan tersebut tertulis “Dalam Memperingati Hari Ulang Tahun Universitas Diadakan Pertandingan Bola Basket Antara Fakultas Kedokteran Dengan Fakultas Hukum Pada Hari Sabtu Jam Tujuh Malam” Marsha yang melihat pengumuman tersebut segera bergegas keluar dari gerombolan manusia dan langsung mencari Amoy sahabatnya. “Amoy….! Kemana aja lo gue cari- cari?” Amoy yang sedang asyik ngobrol dengan Rizal di kantin kampus terkejut mendengar teriakan Marsha. “Heh…! Ada apaan sih, Sha manggil- manggil gue pakai teriak- teriak segala? Dilihatin banyak orang tuh” “Sebentar ya Zal gue lagi ada perlu dengan Amoy ” Marsha pun menarik tangan Amoy dan meninggalkan Rizal seorang diri. “Hehehe… Sory Moy, ini gawat and penting banget. Lo, sudah baca papan pengumuman belum hari ini? Lo, mau kan ikutan nonton pertandingan itu?, lo nggak bakalan nyesel deh. Gue jamin!” Marsha sahabatnya yang ceriwis sedang merayu- rayu Amoy “Hmm… gimana ya, hari Sabtu besok rencananya gue mau nyelesaikan beberapa tugas yang belum gue selesaikan.” Amoy menggaruk- garuk kepalanya yang sedang berpikir dan bingung “Gampang deh hari Kamis sore, gue dengan Chaca, Gaby dan Dewi ke kosan lo. Kita ngerjakan tugas bareng- bareng. Masa hari Sabtu juga lo mau menatap buku diktat yang tebal- tebal dan memusingkan kepala terus. Ini waktunya yang tepat lo melihat dunia luar selain kampus dan kosan.” “Oke deh kalau begitu.” “ Oke, hari Sabtu sehabis Isya gue ma yang lainnya ngumpul dikosan lo. Bye, Moy!” Marsha dengan senyum- senyum meninggalkan Amoy. Amoy hanya bisa menatap Marsha yang meninggalkannya dan Amoy pun melanjutkan perbincangan dengan Rizal. Rizal adalah kakak angkatan Amoy. Dia cowok yang berwajah manis, santun, humoris dan jenius tapi tidak sombong. Dia senang membantu siapa saja termasuk adik- adik kelasnya yang tidak mengerti akan materi perkuliahan. Tidak heran jika dia dikagumi bahkan diidolakan oleh kaum hawa termasuk aku. Tapi aku sadar dirilah bahwa satu banding banyak cewek yang akan dia pilih. Aku bukanlah termasuk wanita yang lembut, tapi keibuan. Aku bukan tipe cewek yang bertubuh seperti para model dan fashionable juga. Hanya saja aku mempunyai lesung pipi yang manis (kata sahabat- sahabatku dan keluargaku hehehe), berambut ikal, pintar bermain piano, senang akan kebersihan dan tidak senang memperbincangkan keburukan orang lain sehingga aku disayang oleh sahabat- sahabatku. Jujur saja, semenjak aku sekolah hingga kuliah aku juga belum mempunyai cowok. Ada memang beberapa cowok yang menyukaiku. Tapi aku nggak tahu mereka bisa menyukaiku melihat sisi darimana. Apalagi semenjak aku kuliah dibandung, waduh… cewek- cewek dibandung seperti artis dan model saja. Mana ada cowok- cowok yang menutup mata jika ada cewek- cewek seksi. Tapi aku melihat Rizal berbeda dengan cowok- cowok yang lain. Ah, entahlah itu benar atau tidak. Aku berkenalan dekat dengan Rizal semenjak aku ikut bergabung dalam kegiatan kemahasiswaan dikampus. Aku mempunyai sahabat bernama Gaby, Chaca, Marsha dan Dewi. Keempat sahabatku mempunyai sifat dan karakter yang berbeda- beda. Marsha sahabatku adalah orang yang ceriwis, lebay, dan suka menolong orang terkadang malas. Chaca sahabatku mempunyai hobi bermain game, menggambar dan membaca novel sehingga penuh dengan inspirasi dan motivasi terkadang juga pelupa . Gaby adalah sahabatku yang pendiam, sabar, humoris, hobi memasak, dan suka akan kerapian serta keindahan terkadang ceroboh. Sedangkan Dewi adalah sahabatku yang shopholic (senang berbelanja), tidak pelit, fashionable, cantik dan pintar mengambil keputusan sampai- sampai terkadang cuek (nggak peduli). Yang terpenting dalam persahabatan kami adalah suka ataupun duka harus saling tolong- menolong, saling menjaga perasaan, jujur dan tidak berbuat aneh- aneh (ngedrugs). Aku sangat bersyukur bisa memiliki sahabat seperti mereka. Maklum semenjak aku kuliah ini, orangtuaku tak bisa bolak balik ke Bandung. Jadi merekalah sebagai pengganti obat rinduku kepada orangtuaku. Hari Sabtu telah tiba. Aku dan sahabat- sahabatku telah berkumpul dikosanku. Kami mengobrol- ngobrol sebentar. “Gimana ya nanti pertandingannya, pasti seru deh dan banyak yang menonton dari fakultas lainnya.” “Ya iyalah, pastinya gitu lho. Konser musik yang diadakan di Balai Sarbini atau di Senayan tuh pasti kalah serunya dari pertandingan basket ini, Dew!” “Ahahaha… dasar lebay lo, Sha! Ada- ada aja lo tuh.” “Benar tuh kata Chaca! Hmm… kira- kira dari sana kita bisa dapat kenalan baru nggak ya?” “Aduh..duh Amoy, lo tu mau ajang pencarian jodoh juga disana?” “Hihihi, ya nggak apa- apalah Cha, Amoy sahabat kita ini sudah lama menjadi jomblowati. Jadi nggak ada salahnya kan kalau disana ada jodoh buat Amoy?!” “Nah, itu benar! Seratus buat Gaby. Hehehe.” Beberapa menit kemudian mereka berangkat. Sesampainya disana, tampak lahan parkiran dipenuhi dengan kendaraan dan orang. Penonton yang melihat pertandingan itu banyak jumlahnya. Seluruh tempat duduk dilapangan tampak terisi penuh dengan manusia. Sorak sorai pun terdengar dengan jelasnya oleh para penonton. Beberapa jam kemudian diumumkanlah pemenang dari pertandingan basket. Pertandingan basket dimenangkan dari Fakultas Hukum. “Ya..ya..ya. nggak heran kalau dari fakultas kita kalah! Anak- anak dari FK kan selalu disibukkan dengan berbagai laporan, praktikum dan membuka buku yang tebal- tebal dan kadang kita nggak mengerti bahasa didalamnya sehingga tim basket kita jarang ada waktu untuk olahraga” “Ah, nggak juga kok! Hari ini mungkin belum hari keberuntungan bagi teman- teman kita aja. Buktinya tahun lalu tim basket kita menang melawan fakultas ekonomi.” Setelah mereka keluar dari lapangan, nggak jauh terlihat sosok wajah cowok yang Amoy kenal. Dan ternyata itu adalah Rizal. “Hai Zal! Dengan siapa lo kesini?” “Ini dengan teman gue. Kenalin ini Nanda!” “Nanda!” “Amoy!” “Hai Rizal, dengan siapa kesini?” “Ini dengan teman gue, Nanda namanya” “Nanda!” “ Chaca, Gaby, Dewi, Marsha!” “Kok gue nggak pernah lihat dia ya di FK?” “Ini teman kos gue. Dia anak fakultas hukum.” “Oh begitu… Ya sudah Zal, gue ma teman- teman mau pulang dulu” “Ok, hati- hati ya dijalan!” Entah mengapa sejak hari Sabtu yang lalu, aku sering berjumpa dengan Nanda. Kebetulan saja atau tidak kami sering berjumpa. Dijalan, didalam bus, diwarnet hingga didalam mal. Ckckckck… sungguh mengherankan. Suatu ketika kami bertemu lagi disebuah mal terkenal di Bandung. Nanda mengajakku makan siang dimal tersebut. Ya pas banget berhubung juga perutku juga belum diisi apa- apa siang ini, aku pun menerima ajakannya. Kami pun berbincang- bincang. “Gimana kabarnya sahabat- sahabatmu?” “Mereka semua baik- baik. Kamu dekat banget ya dengan Rizal?” “Ya sejak aku kenal dia di kegiatan kampus.” “Iya, tuh anak sering banget cerita tentang kamu.” “Masa sih?! Ah lo tu bercanda aja” “Beneran lagi, masa gue bercanda!” “Kemarin tuh… gue disuruh nemenin dia nonton. Dia maksa banget ke gue. Dia pengen kenalin gue ke elo katanya.” “ Ternyata yang dibilang ke gue itu benar, kalo lo itu manis juga. Lo, sudah punya cowok belum?” “Sudah ah, nggak usah tanya- tanya terus!” “Eh, ini gue tanya serius lagi ma lo! Mana mungkin gue bercanda.” “Belum!” “Kalau gue suka ma elo dan nembak elo, elo mau nerima nggak?” “Gue nggak bisa jawab. Masalah itu gue masih belum bisa pikir. Gue saat ini pengen berteman banyak aja.” “Hmm.. oke deh, gue akan nunggu jawaban lo dua minggu lagi” “Lo kan juga sudah selesai makannya. Gue pulang duluan ya!” “Bye!” Aku berpikir dan berpikir terus jawaban apa yang tepat diberikan untuk dia. Aku pun belum berani untuk menceritakan kepada sahabat- sahabatku. Aku pun berkenalan dengan dia dalam waktu yang singkat banget dan dia langsung nembak aku. Huh.. dasar cowok selalu saja membingungkan. Tingkahnya selalu aneh- aneh saja buat apa dipikir serius. Nggak terasa sudah memasuki minggu kedua semenjak kejadian Nanda menyatakan cintanya. Aduh… kepalaku tambah pusing saja. Apalagi minggu- minggu ini banyak banget tugas- tugas kuliahku sehingga aku pun tak sempat memikirkan hal- hal berbau cinta. Tiba- tiba Hpku berbunyi “ Assalamualaikum” “Wa’alaikumusalam. Ini siapa ya?” “Hehehe… gue Nanda.” “Oh, lo ada apa Nan?” “Bisa nggak kita ketemuan di House Café? Gue tunggu jam tujuh disana. Oke” “Iya!” Aduh..duh gimana nih, si Nanda ngajak ketemuan lagi. Pasti deh dia minta jawaban dariku. Apa aku harus memberitahu Gaby, Marsha, Chaca, Amoy dan Dewi? Ah, sudahlah untuk hal yang belum pasti ini lebih baik aku simpan saja dulu dari mereka. Aku pun berganti pakaian, kemudian bergegas pergi ke café tersebut dengan naik taksi. Sesampainya disana, ternyata aku melihat Nanda sudah datang. “Halo, Amoy! Mau pesan makanan apa?” “Pesan spageti ma es jeruk.” “Pesan nasi goreng dengan jus tomat” “Moy, aku benar- benar serius kemarin yang aku utarakan. Gue nggak tahu kenapa bisa ingat- ingat ma elo. Padahal gue juga sadar bahwa gue hanya ketemu elo beberapa jam saat saja. Tapi gue benar- benar serius sayang dengan elo.” “Males ah! Setiap cowok selalu berkata hal yang serupa. Kalau sudah jadi pacar, selalu ingin mencari cewek yang lebih cantik juga nantinya.” “Benaran Moy, aku benar- benar sungguh- sungguh. Aku sama sekali belum pernah mengutarakan hati ini ke orang lain selain kamu.” ” Apa buktinya coba kalau kamu sungguh- sungguh?” “Gue tahu lo suka banget makan es krim Hagen Daz dan gue tahu kalau lo suka banget makan disini.” “Lo, bisa tahu darimana?” “Hal itu rahasia.” “Sekarang jawab lo mau menerima atau menolak cinta gue?” “Ya, gue mau. Tapi AWAS ! Gue paling benci ma cowok munafik, pembohong dan kurang ajar.” “Oke sayangku.” “Terimakasih lo sudah mau menerima cinta gue. Semoga kita berdua selalu bersama selama- lamanya.”