Halaman

18 Oktober 2010

        



ANTARA PACAR DAN SHABAT




              Pagi ini, entah mengapa papan pengumuman yang tadinya sepi biasa- biasa saja berubah menjadi ramai dipadati banyak manusia di kampus Amoy. Di papan tersebut tertulis “Dalam Memperingati Hari Ulang Tahun Universitas Diadakan Pertandingan Bola Basket Antara Fakultas Kedokteran Dengan Fakultas Hukum Pada Hari Sabtu Jam Tujuh Malam” Marsha yang melihat pengumuman tersebut segera bergegas keluar dari gerombolan manusia dan langsung mencari Amoy sahabatnya. “Amoy….! Kemana aja lo gue cari- cari?” Amoy yang sedang asyik ngobrol dengan Rizal di kantin kampus terkejut mendengar teriakan Marsha. “Heh…! Ada apaan sih, Sha manggil- manggil gue pakai teriak- teriak segala? Dilihatin banyak orang tuh” “Sebentar ya Zal gue lagi ada perlu dengan Amoy ” Marsha pun menarik tangan Amoy dan meninggalkan Rizal seorang diri. “Hehehe… Sory Moy, ini gawat and penting banget. Lo, sudah baca papan pengumuman belum hari ini? Lo, mau kan ikutan nonton pertandingan itu?, lo nggak bakalan nyesel deh. Gue jamin!” Marsha sahabatnya yang ceriwis sedang merayu- rayu Amoy “Hmm… gimana ya, hari Sabtu besok rencananya gue mau nyelesaikan beberapa tugas yang belum gue selesaikan.” Amoy menggaruk- garuk kepalanya yang sedang berpikir dan bingung “Gampang deh hari Kamis sore, gue dengan Chaca, Gaby dan Dewi ke kosan lo. Kita ngerjakan tugas bareng- bareng. Masa hari Sabtu juga lo mau menatap buku diktat yang tebal- tebal dan memusingkan kepala terus. Ini waktunya yang tepat lo melihat dunia luar selain kampus dan kosan.” “Oke deh kalau begitu.” “ Oke, hari Sabtu sehabis Isya gue ma yang lainnya ngumpul dikosan lo. Bye, Moy!” Marsha dengan senyum- senyum meninggalkan Amoy. Amoy hanya bisa menatap Marsha yang meninggalkannya dan Amoy pun melanjutkan perbincangan dengan Rizal. Rizal adalah kakak angkatan Amoy. Dia cowok yang berwajah manis, santun, humoris dan jenius tapi tidak sombong. Dia senang membantu siapa saja termasuk adik- adik kelasnya yang tidak mengerti akan materi perkuliahan. Tidak heran jika dia dikagumi bahkan diidolakan oleh kaum hawa termasuk aku. Tapi aku sadar dirilah bahwa satu banding banyak cewek yang akan dia pilih. Aku bukanlah termasuk wanita yang lembut, tapi keibuan. Aku bukan tipe cewek yang bertubuh seperti para model dan fashionable juga. Hanya saja aku mempunyai lesung pipi yang manis (kata sahabat- sahabatku dan keluargaku hehehe), berambut ikal, pintar bermain piano, senang akan kebersihan dan tidak senang memperbincangkan keburukan orang lain sehingga aku disayang oleh sahabat- sahabatku. Jujur saja, semenjak aku sekolah hingga kuliah aku juga belum mempunyai cowok. Ada memang beberapa cowok yang menyukaiku. Tapi aku nggak tahu mereka bisa menyukaiku melihat sisi darimana. Apalagi semenjak aku kuliah dibandung, waduh… cewek- cewek dibandung seperti artis dan model saja. Mana ada cowok- cowok yang menutup mata jika ada cewek- cewek seksi. Tapi aku melihat Rizal berbeda dengan cowok- cowok yang lain. Ah, entahlah itu benar atau tidak. Aku berkenalan dekat dengan Rizal semenjak aku ikut bergabung dalam kegiatan kemahasiswaan dikampus. Aku mempunyai sahabat bernama Gaby, Chaca, Marsha dan Dewi. Keempat sahabatku mempunyai sifat dan karakter yang berbeda- beda. Marsha sahabatku adalah orang yang ceriwis, lebay, dan suka menolong orang terkadang malas. Chaca sahabatku mempunyai hobi bermain game, menggambar dan membaca novel sehingga penuh dengan inspirasi dan motivasi terkadang juga pelupa . Gaby adalah sahabatku yang pendiam, sabar, humoris, hobi memasak, dan suka akan kerapian serta keindahan terkadang ceroboh. Sedangkan Dewi adalah sahabatku yang shopholic (senang berbelanja), tidak pelit, fashionable, cantik dan pintar mengambil keputusan sampai- sampai terkadang cuek (nggak peduli). Yang terpenting dalam persahabatan kami adalah suka ataupun duka harus saling tolong- menolong, saling menjaga perasaan, jujur dan tidak berbuat aneh- aneh (ngedrugs). Aku sangat bersyukur bisa memiliki sahabat seperti mereka. Maklum semenjak aku kuliah ini, orangtuaku tak bisa bolak balik ke Bandung. Jadi merekalah sebagai pengganti obat rinduku kepada orangtuaku. Hari Sabtu telah tiba. Aku dan sahabat- sahabatku telah berkumpul dikosanku. Kami mengobrol- ngobrol sebentar. “Gimana ya nanti pertandingannya, pasti seru deh dan banyak yang menonton dari fakultas lainnya.” “Ya iyalah, pastinya gitu lho. Konser musik yang diadakan di Balai Sarbini atau di Senayan tuh pasti kalah serunya dari pertandingan basket ini, Dew!” “Ahahaha… dasar lebay lo, Sha! Ada- ada aja lo tuh.” “Benar tuh kata Chaca! Hmm… kira- kira dari sana kita bisa dapat kenalan baru nggak ya?” “Aduh..duh Amoy, lo tu mau ajang pencarian jodoh juga disana?” “Hihihi, ya nggak apa- apalah Cha, Amoy sahabat kita ini sudah lama menjadi jomblowati. Jadi nggak ada salahnya kan kalau disana ada jodoh buat Amoy?!” “Nah, itu benar! Seratus buat Gaby. Hehehe.” Beberapa menit kemudian mereka berangkat. Sesampainya disana, tampak lahan parkiran dipenuhi dengan kendaraan dan orang. Penonton yang melihat pertandingan itu banyak jumlahnya. Seluruh tempat duduk dilapangan tampak terisi penuh dengan manusia. Sorak sorai pun terdengar dengan jelasnya oleh para penonton. Beberapa jam kemudian diumumkanlah pemenang dari pertandingan basket. Pertandingan basket dimenangkan dari Fakultas Hukum. “Ya..ya..ya. nggak heran kalau dari fakultas kita kalah! Anak- anak dari FK kan selalu disibukkan dengan berbagai laporan, praktikum dan membuka buku yang tebal- tebal dan kadang kita nggak mengerti bahasa didalamnya sehingga tim basket kita jarang ada waktu untuk olahraga” “Ah, nggak juga kok! Hari ini mungkin belum hari keberuntungan bagi teman- teman kita aja. Buktinya tahun lalu tim basket kita menang melawan fakultas ekonomi.” Setelah mereka keluar dari lapangan, nggak jauh terlihat sosok wajah cowok yang Amoy kenal. Dan ternyata itu adalah Rizal. “Hai Zal! Dengan siapa lo kesini?” “Ini dengan teman gue. Kenalin ini Nanda!” “Nanda!” “Amoy!” “Hai Rizal, dengan siapa kesini?” “Ini dengan teman gue, Nanda namanya” “Nanda!” “ Chaca, Gaby, Dewi, Marsha!” “Kok gue nggak pernah lihat dia ya di FK?” “Ini teman kos gue. Dia anak fakultas hukum.” “Oh begitu… Ya sudah Zal, gue ma teman- teman mau pulang dulu” “Ok, hati- hati ya dijalan!” Entah mengapa sejak hari Sabtu yang lalu, aku sering berjumpa dengan Nanda. Kebetulan saja atau tidak kami sering berjumpa. Dijalan, didalam bus, diwarnet hingga didalam mal. Ckckckck… sungguh mengherankan. Suatu ketika kami bertemu lagi disebuah mal terkenal di Bandung. Nanda mengajakku makan siang dimal tersebut. Ya pas banget berhubung juga perutku juga belum diisi apa- apa siang ini, aku pun menerima ajakannya. Kami pun berbincang- bincang. “Gimana kabarnya sahabat- sahabatmu?” “Mereka semua baik- baik. Kamu dekat banget ya dengan Rizal?” “Ya sejak aku kenal dia di kegiatan kampus.” “Iya, tuh anak sering banget cerita tentang kamu.” “Masa sih?! Ah lo tu bercanda aja” “Beneran lagi, masa gue bercanda!” “Kemarin tuh… gue disuruh nemenin dia nonton. Dia maksa banget ke gue. Dia pengen kenalin gue ke elo katanya.” “ Ternyata yang dibilang ke gue itu benar, kalo lo itu manis juga. Lo, sudah punya cowok belum?” “Sudah ah, nggak usah tanya- tanya terus!” “Eh, ini gue tanya serius lagi ma lo! Mana mungkin gue bercanda.” “Belum!” “Kalau gue suka ma elo dan nembak elo, elo mau nerima nggak?” “Gue nggak bisa jawab. Masalah itu gue masih belum bisa pikir. Gue saat ini pengen berteman banyak aja.” “Hmm.. oke deh, gue akan nunggu jawaban lo dua minggu lagi” “Lo kan juga sudah selesai makannya. Gue pulang duluan ya!” “Bye!” Aku berpikir dan berpikir terus jawaban apa yang tepat diberikan untuk dia. Aku pun belum berani untuk menceritakan kepada sahabat- sahabatku. Aku pun berkenalan dengan dia dalam waktu yang singkat banget dan dia langsung nembak aku. Huh.. dasar cowok selalu saja membingungkan. Tingkahnya selalu aneh- aneh saja buat apa dipikir serius. Nggak terasa sudah memasuki minggu kedua semenjak kejadian Nanda menyatakan cintanya. Aduh… kepalaku tambah pusing saja. Apalagi minggu- minggu ini banyak banget tugas- tugas kuliahku sehingga aku pun tak sempat memikirkan hal- hal berbau cinta. Tiba- tiba Hpku berbunyi “ Assalamualaikum” “Wa’alaikumusalam. Ini siapa ya?” “Hehehe… gue Nanda.” “Oh, lo ada apa Nan?” “Bisa nggak kita ketemuan di House Café? Gue tunggu jam tujuh disana. Oke” “Iya!” Aduh..duh gimana nih, si Nanda ngajak ketemuan lagi. Pasti deh dia minta jawaban dariku. Apa aku harus memberitahu Gaby, Marsha, Chaca, Amoy dan Dewi? Ah, sudahlah untuk hal yang belum pasti ini lebih baik aku simpan saja dulu dari mereka. Aku pun berganti pakaian, kemudian bergegas pergi ke café tersebut dengan naik taksi. Sesampainya disana, ternyata aku melihat Nanda sudah datang. “Halo, Amoy! Mau pesan makanan apa?” “Pesan spageti ma es jeruk.” “Pesan nasi goreng dengan jus tomat” “Moy, aku benar- benar serius kemarin yang aku utarakan. Gue nggak tahu kenapa bisa ingat- ingat ma elo. Padahal gue juga sadar bahwa gue hanya ketemu elo beberapa jam saat saja. Tapi gue benar- benar serius sayang dengan elo.” “Males ah! Setiap cowok selalu berkata hal yang serupa. Kalau sudah jadi pacar, selalu ingin mencari cewek yang lebih cantik juga nantinya.” “Benaran Moy, aku benar- benar sungguh- sungguh. Aku sama sekali belum pernah mengutarakan hati ini ke orang lain selain kamu.” ” Apa buktinya coba kalau kamu sungguh- sungguh?” “Gue tahu lo suka banget makan es krim Hagen Daz dan gue tahu kalau lo suka banget makan disini.” “Lo, bisa tahu darimana?” “Hal itu rahasia.” “Sekarang jawab lo mau menerima atau menolak cinta gue?” “Ya, gue mau. Tapi AWAS ! Gue paling benci ma cowok munafik, pembohong dan kurang ajar.” “Oke sayangku.” “Terimakasih lo sudah mau menerima cinta gue. Semoga kita berdua selalu bersama selama- lamanya.”