Halaman

27 Oktober 2010



 
 
Pemberontakan Kapal 7 merupakan catatan sejarah yang tidak bisa dipisahkan dari proses bertumbuhnya semangat nasionalisme Indonesia yang dilandasi solidaritas kebersamaan. Menariknya pemberontakan ini melibatkan orang-orang Minahasa yang dengan tegas menolak diskriminasi dan tindakan sewenang-wenang dari penjajah Belanda. Bagaimana sejarah Pemberontakan Kapal 7 ini. Berikut tulisan Harry Kawilarang berjudul Kisah Pemberontakan Kapal Zeven Provincien Dan Reaksi Dunia Terhadap Borjuasi Belanda di Indonesia yang diposting di tou-kawanua@yahoogroups.com dan dikutip wartawan koran ini Tenni Assa.

Kutipan:
Jeremias Kawilarang adalah orang nomor dua sebagai pemimpin pemberontak hingga otomatis menjadi pemimpin setelah kematian Martin Paradja pada hari itu juga. Tetapi bagi Kawilarang tidak mungkin melakukan perlawanan karena akan mati konyol saja. Dari peristiwa pemboman itu 23 marinir yang tewas (3 marinir Eropa dan 20 marinir pribumi), 11 luka parah dan empat meninggal beberapa hari kemudian dan 7 marinir luka ringan. Tidak ada pilihan lain dan pemberontak menyerah.

Melumpuhkan Kapal
Pemberontak di Selat Sunda

Gubernur-Jendral de Jonge dalam pertemuannya dengan Osten memutuskan untuk mencegat kapal Zeven Provincien di Selat Sunda. Dalam catatannya de Jonge menulis: “Kami telah memutuskan untuk memusatkan kekuatan di sana (Selat Sunda) dan menghancurkan mereka. Namun tidak boleh diabaikan kapal “Zeven Porvinicien” ini memiliki meriam ukuran 28 cm, sementara (kapal perang “Java” hanya memiliki meriam ukuran 15 cm. Kita harus libatkan pesawat terbang, tetapi itu juga terbatas karena hanya dapat mengudara selama 6 jam. Untuk itu usahakan menggiring kapal mendekati Telukbetung yang akan menjadi basis kekuatan. Terhadap kapal itu sendiri kami tidak begitu ambil perduli. Yang menjadi masalah adalah ketika ada 6 Februari mengeluarkan pernyataan ke dunia internasional dalam bahasa Inggris dan bahasa Belanda hingga dapat diketahui oleh media-pers di seluruh dunia dengan pernyataan:
“Kami merencanakan untuk berlayar ke Surabya dengan penuh semangat. Sehari sebelum berada di Surabaya, kami dengan resmi akan menyerahkan komando kapal kepada Komandan. Tujuan kami adalah memprotes terhadap ketidakadilan penurunan gaji dengan merampok apa yang menjadi hak orang. Tidak ada satupun yang luka di kapal ini dan semuanya selamat.”
Pada hari kelima, Jum’at 10 Februari 1933, setelah meliwati Selat Siberut, masuk telegram yang memerintahkan agar Kapal 7 mengikuti perintah dibawah kapal penjelajah Hr Ms Java, yang di dukung oleh dua kapal pemburu torpedo, HR MS Evertsen dan Hr Ms Piet Hein dan dua kapal selam Hr Ms IX dan Hr Ms KVII.   
Tetapi Martin Paradja menjawab telegram itu: “Wensen niet gehinderd te worden, en stomen naar Surabaya” (Tidak ingin dihalangi dan akan tetap berlayar ke Surabaya).”
Tak berapa lama, tepat pada jam 019.18 muncul kapal terbang di atas pesawat  dan langsung menjatuhkan bom di depan badan kapal. Boshart yang menyaksikan peristiwa itu menulis: “Saya lari menuju ke palka atas, dan pada jarak sekitar 10 meter bom dijatuhkan dan meledak di kapal. Unggunan api pun terlihat menjulang tinggi, dan terlihat mayat-mayat bergelimpangan yang ketika itu sedang melihat kedatangan kapal terbang. Karena tekanan udara hingga saya juga terpental dan jatuh di dek bawah. Tak lama kemudian menyusul lagi tiga bom di jatuhkan di kapal dari pesawat yang terbang rendah. Air mata menguvur ketika melihat korban-korban yang berjatuhan dan mati seketika. Saya sedih, karena mereka itu adalah rekan-rekan saya senasib dan sepenanggungan. Saya melihat seorang rekan dengan lubang di dada dan nafas tersengal-sengal. Masih terasa detak jantung yang keras, namun tak lama karena kemudian menghembuskan nafasnya yang terakhir. Keadaan sekeliling geladak kapal sangat menyedihak oleh gelimpangan mayat, termasuk pemimpin pemberontak, Martin Paradja yang mati sekitka oleh pemboman itu. Kamar mesin hancur dan bersama masinis-masinis lainnya ikut dilahap oleh api. Semua meriam kapal sudah hancur. Banyak pula orang melompat ke laut untuk menyelamatkan diri tanpa menghiraukan bahaya ikan-ikan hiu dari samudera Hindia dan berkeliaran mengitari kapal. Tak lama kemudian terlihat kapal-kapal motor datang untuk menyelamatkan mereka ini. Ketika saya mendatangi bilik radio, terlihat perwira telegrafis Eropa terdiam dan sama sekali tidak bergerak dari tempatnya. Kemudian saya pergi ke kamar perwira dengan maksud untuk mengatakan apa yang harus mereka lakukan. Ternyata sebagian dari pemimpin pemberontak sudah tewas, dan hanya tinggal beberapa orang saja, termasuk Kawilarang, yang ketika itu terbangun dari tidur dan bangun dan mendapat luka di kaki. Begitu pula dengan Rumambi, mengalami luka parah.”
Jeremias Kawilarang adalah orang nomor dua sebagai pemimpin pemberontak hingga otomatis menjadi pemimpin setelah kematian Martin Paradja pada hari itu juga. Tetapi bagi Kawilarang tidak mungkin melakukan perlawanan karena akan mati konyol saja. Dari peristiwa pemboman itu 23 marinir yang tewas (3 marinir Eropa dan 20 marinir pribumi), 11 luka parah dan empat meninggal beberapa hari kemudian dan 7 marinir luka ringan. Tidak ada pilihan lain dan pemberontak menyerah. Kebakaran di kapal dipadamkan.Para pemberontak yang masih hidup di angkut dengan kapal Java sementara marinir pemberontak Eropa dibawa dengan kapal kecil, Orion menuju pulau Onrust, di kepulauan Seribu. Para marinir pribumi yang tidak diborgol berjumlah 100 orang sedang yang diborgol 50 orang. Sementara marinir Eropa 28 yang diborgol dan 4 orang tidak diborgol dan semuanya masuk penjara Sukolilo, Madura bersama 400 lainnya yang ditangkap sebelumnya.(bersambung)
zz